WME, Manado — Rencana alih fungsi kawasan Taman Budaya Sulawesi Utara menjadi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) memicu gelombang penolakan dari para seniman di daerah itu.
Mereka menilai langkah tersebut sebagai bentuk pengabaian terhadap kebudayaan daerah dan menyebutnya sebagai “musibah kebudayaan”.

Pasalnya, pada Rabu (1/10/2025) sore, tim Aparatur Sipil Negara dari Bidang Aset BKAD Provinsi Sulawesi Utara terlihat melakukan pengukuran lahan di kompleks Taman Budaya.
Kabar tersebut menimbulkan keresahan di kalangan pelaku seni yang khawatir kawasan itu benar-benar akan dialihfungsikan untuk kepentingan komersial.
Gerakan Seniman Sulut (GEMAS) menyatakan penolakannya terhadap rencana tersebut dan mendesak Pemerintah Provinsi Sulut untuk menghentikan segala bentuk marginalisasi terhadap kesenian.
Mereka menuntut agar Taman Budaya Sulawesi Utara dikembalikan fungsinya sebagai pusat kreativitas dan pembinaan generasi muda di bidang seni.
Koordinator GEMAS, Aldes Sambalao, dalam pernyataannya, meminta pemerintah tidak lagi mengabaikan peran seni dalam kehidupan masyarakat.
“Kami menuntut dibangunnya kembali Taman Budaya Sulut serta mengembalikan fungsi Gedung Kesenian Pingkan Matindas sesuai peruntukannya,” ujarnya.
Seniman Senior: Ironis jika Taman Budaya Diperlakukan Semata-mata jadi Sumber PAD
Taman Budaya Sulut berdiri sejak 8 Januari 1987 dan menjadi ruang penting bagi seniman lintas disiplin, mulai dari teater, tari, musik hingga seni rupa.
Namun sejak 2017, setelah pembentukan Dinas Kebudayaan Daerah, status kelembagaan Taman Budaya diturunkan, dan seluruh aktivitas kesenian dihentikan.
Kondisi itu membuat para seniman kehilangan ruang berkarya. Fasilitas seperti meja, kursi, peralatan seni, hingga sound system dilaporkan hilang, sementara kompleks Taman Budaya kini terbengkalai dan ditumbuhi tanaman liar.
Sejak itu pula, seniman terpaksa mencari tempat alternatif untuk berlatih dan berpentas secara mandiri.

Sebelumnya, sempat beredar rencana menjadikan kawasan tersebut sebagai kampus pariwisata, namun tak terealisasi.
Kini isu pembangunan SPBU di atas lahan yang sama kembali membangkitkan kekecewaan para seniman terhadap sikap pemerintah daerah yang dianggap mengesampingkan nilai-nilai kebudayaan.
Seniman senior dan mantan Ketua Harian Dewan Kesenian Sulut, Merdeka Gedoan, menyebut ironis jika Taman Budaya diperlakukan semata-mata sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Nilai Taman Budaya tidak terukur oleh uang. Ia adalah tempat pembinaan generasi muda dan penjaga peradaban bangsa,” ujarnya.
Para seniman juga menyoroti ketimpangan perhatian pemerintah antara sektor olahraga dan seni.
Mereka menilai seni memiliki peran yang sama pentingnya dalam menjaga keseimbangan tubuh dan jiwa manusia serta memberi warna bagi kehidupan masyarakat.
Meski demikian, para pelaku seni masih berharap Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus dapat menunjukkan keberpihakannya dengan merevitalisasi kembali Taman Budaya dan Gedung Kesenian Pingkan Matindas.
Mereka menilai langkah itu akan menjadi warisan berharga bagi dunia kebudayaan Sulawesi Utara.
Peliput/Editor: Icad
Sumber: Press Release GEMAS












