WME, Tomohon – Lembaga Adat Kebudayaan Tombulu (LAKT) “Tawaang” menggelar Ibadah Natal Yesus Kristus yang berlangsung baik di Gereja GMIM Baitani, Kelurahan Matani, pada Jumat (09/01/2026).
Ibadah Natal tersebut dipimpin langsung oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Kristen Protestan Kementerian Agama Republik Indonesia, Dr. Jeane Marie Tulung, S.Th., M.Pd., yang hadir sebagai pelayan firman.

Dalam khotbahnya, Dirjen Jeane Marie Tulung menekankan bahwa nilai moral, nilai luhur, dan nilai keagamaan sejatinya bertumbuh dari dalam keluarga.
Oleh karena itu, kata dia, keluarga harus menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter dan iman anak sejak dini.
“Jangan sampai kita keliru dalam memelihara keluarga, terutama dalam mendidik anak-anak. Keluarga adalah sekolah pertama bagi pembentukan iman, moral, dan karakter,” tegas Dirjen Jeane.
Ia juga mengajak seluruh jemaat untuk menanamkan makna Natal sebagai simbol kesederhanaan dalam kehidupan keluarga.
Menurutnya, semangat Natal harus diwujudkan melalui keteladanan hidup, pengajaran yang baik, serta sikap rendah hati, sehingga nilai-nilai luhur dan keagamaan dapat tumbuh secara alami dalam diri anak-anak.
“Marilah kita membuka hati untuk kehadiran Tuhan, bukan hanya dalam pikiran, tetapi juga dalam perbuatan nyata di kehidupan sehari-hari,” lanjutnya.
Sementara itu, Ketua Umum Lembaga Adat Kebudayaan Tombulu “Tawaang”, Ibrahim Tular, dalam pesan Natalnya mengajak seluruh masyarakat adat Tombulu untuk menjadikan Natal sebagai momentum mempererat persaudaraan, menjaga keharmonisan, serta melestarikan nilai-nilai budaya yang selaras dengan ajaran Kristiani.
“Natal mengajarkan kita tentang kasih, damai, dan kerendahan hati. Sebagai masyarakat adat Tombulu, mari kita terus menjaga persatuan, menghormati perbedaan, serta mewariskan nilai-nilai budaya dan iman kepada generasi penerus,” ujar Ibrahim Tular.
Ia menambahkan, keberadaan lembaga adat harus menjadi perekat sosial yang membawa damai, menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat, serta berkontribusi positif bagi pembangunan daerah.
Dari pantauan media ini, tampak para tokoh adat dan budaya Minahasa hadir mengenakan busana tradisional, menambah kerukunan sekaligus nuansa kultural dalam perayaan Natal tersebut.
Ibadah berlangsung dengan tertib dan penuh penghayatan, menggunakan bahasa daerah Tombulu sebagai bentuk pelestarian budaya lokal.
Perayaan Natal LAKT Tombulu “Tawaang” pun menjadi wujud nyata harmonisasi antara iman Kristen dan kearifan lokal Minahasa, yang terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi.












