WME, Manado – Isu ketahanan pangan tak lagi sekadar menjadi domain pemerintah dan petani, tetapi mulai didorong menjadi gerakan bersama yang melibatkan generasi muda sebagai motor perubahan.
Komitmen itu mengemuka dalam seminar bertajuk “Generasi Muda Sulawesi Utara sebagai Penggerak Ketahanan Pangan Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal” yang digelar Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) bekerja sama dengan Pemuda Inspirasi Nusantara (PIN), Senin (20/4).

Forum ini mempertemukan akademisi, praktisi, tokoh adat dan kalangan pemuda dalam satu panggung gagasan untuk merumuskan masa depan ketahanan pangan Sulawesi Utara yang bertumpu pada inovasi dan nilai budaya lokal.
Dekan Fakultas Pertanian Unsrat, Prof Ir Dedie Tooy MSi PhD, menegaskan ketahanan pangan tidak semata soal ketersediaan bahan pangan, tetapi juga menyangkut kualitas, keamanan, keberagaman dan keterjangkauan bagi masyarakat.
Menurutnya, swasembada pangan harus dibangun melalui inovasi, teknologi serta penguatan ekonomi kreatif di sektor pertanian.
“Ketahanan pangan bukan isu sektoral, tetapi bagian dari kemandirian bangsa. Pemuda harus masuk sebagai pelaku utama perubahan,” tegasnya.
Sementara itu, tokoh adat Minahasa Belarmino Lapong menyoroti pentingnya menghidupkan kembali nilai mapalus sebagai fondasi ketahanan pangan berbasis budaya.
Ia menegaskan semangat gotong royong masyarakat Minahasa sejak lama telah mempraktikkan konsep Zero Hunger jauh sebelum menjadi agenda global melalui SDGs.
“Ketahanan pangan adalah nyawa, dan tanah adalah ibu. Orang Minahasa tidak akan membiarkan keluarganya kelaparan,” ujarnya.
Dari perspektif praktisi, Dr Ir Lyndon Pangemanan menilai generasi muda harus mengubah cara pandang terhadap pertanian.
Ia mendorong pemuda keluar dari stigma lama yang memandang petani sebagai profesi kelas bawah, menuju paradigma baru bahwa pertanian adalah bisnis modern berbasis teknologi.
“Petani hari ini adalah agripreneur. Pertanian bukan sektor kotor dan tertinggal, tapi ruang inovasi dan masa depan,” katanya.
Menurutnya, langkah sederhana seperti hidroponik, kebun kampus, hingga konten edukasi digital tentang pertanian dapat menjadi pintu masuk lahirnya agripreneur muda di Sulawesi Utara.
Dalam seminar itu, Ketua DPW Sulut Forum Alumni BEM, Combyan Lombongbitung, turut menekankan pentingnya pemuda terlibat mengawal distribusi pupuk, bibit, dan air sebagai tiga unsur utama menopang ketahanan pangan.
Ia mengapresiasi reformasi tata kelola pupuk melalui Perpres Nomor 6 Tahun 2025 serta digitalisasi penyaluran pupuk subsidi yang dinilai memperkuat produktivitas petani.
Namun ia juga mengingatkan pentingnya pengawasan bersama agar distribusi subsidi tidak disalahgunakan oknum tertentu.
“Ketahanan pangan adalah tanggung jawab bersama. Pemuda harus hadir bukan hanya sebagai penonton, tapi pengawal dan penggerak,” tegasnya.
Seminar ini tidak berhenti sebagai ruang diskusi, tetapi diarahkan menjadi titik awal kolaborasi berkelanjutan antara kampus, komunitas dan pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem pertanian modern berbasis kearifan lokal.
Lewat gerakan ini, Fakultas Pertanian Unsrat ingin menegaskan bahwa masa depan ketahanan pangan Sulawesi Utara ada di tangan generasi muda, mereka yang siap turun ke ladang, berinovasi dari kampus, dan menjadikan pertanian sebagai jalan kemandirian bangsa.
Alfa












